Pengertian Gaya Bahasa Dan Klasifikasi Gaya Bahasa Lengkap Beserta Contohnya


Pengertian Gaya Bahasa Dan Klasifikasi Gaya Bahasa Lengkap Beserta Contohnya - Hai sahabat pembaca semuaJ gimana kabarnya?” tentunya masih semangat dengan materi-materi selanjutnya. Pada kesempatan ini penulis akan mengajak sahabat pembaca  mengulas kembali materi mengenai Klasifikasi Gaya Bahasa.

Langsung saja yuk simak ulasan berikut ini!

Pengertian Gaya Bahasa Dan Klasifikasi Gaya Bahasa Lengkap Beserta Contohnya
Pengertian Gaya Bahasa Dan Klasifikasi Gaya Bahasa Lengkap Beserta Contohnya

   Klasifikasi Gaya Bahasa


Gaya dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian menurut Gorys Keraf (1990), gaya bahasa dapat dibedakan menjadi beberapa macam sebagai berikut:

    Gaya Bahasa berdasarkan segi nonbahasa


Gaya bahasa dibagi menjadi tujuh pokok yaitu:
  •  Berdasarkan Pengarang

Gaya yang sesuai dengan nama pengarang dikenal berdasarkan ciri pengenal yang digunakan penulis dalam karangan. Penulis yang hebat dapat mempengaruhi orang-orang pada zaman tersebut atau pengikutnya sehingga membentuk sebuah aliran.
Contoh: gaya Chairil Anwar, gaya Sutan Takdir Alisyahbana, dan gaya Seno Gumira Ajidarma.
  • .      Berdasarkan Masa

Gaya bahasa berdasarkan masa dikenal karena ciri-ciri tertentu yang berlangsung dalam kurun waktu tertentu.
Contohnya: gaya klasik, gaya lama, atau gaya modern.
  •  Berdasarkan Medium

Gaya medium merupakan bahasa dalam arti alat komunikasi. Setiap bahasa memiliki struktur dan situasi sosial yang berbeda-beda. Jadi, gayagaya bahasa prancis akan berbeda dengan gaya bahasa Indonesia meskipun karya yang ditulis sama.
  • .      Berdasarkan Subjek

Gaya bahasa dalam karangan dipengaruhi pula oleh subjek yang menjadi pokok permasalahan dalam tulisan. Berdasarkan perbedaan subjek tersebut, lahirlah gaya bahasa ilmiah, populer, filsafat, atau didaktik.
  • .       Berdasarkan Tempat

Gaya bahasa juga dipengaruhi tempat. Setiap tempat memiliki ciri kedaerahan masing-masing berdasarkan lokasi geografis. Ini disebabkan ciri khas kedaerahan mempengaruhi ungkapan dan ekspresi bahasa.
Contoh: gaya Jakarta, gaya Medan, gaya Banyumas, dan gaya Madura.
  •        Berdasarkan Hadirin

Hadirin dalam pokok bahasan ini merupakan pembaca. Jenis pembaca mempengaruhi gaya yang dipergunakan penulis.
Contoh: gaya populer yang sesuai dengan lingkup masyarakat. Ada  pula gaya familiar yang sesuai untuk lingkungan keluarga.
  •       Berdasarkan Tujuan

Gaya ini didasarkan pada maksud yang ingin disampaikan penulis. Gaya berdasarkan tujuan melahirkan gaya diplomatis, sarkastik, humoris, atau sentimental. 

2     Gaya Bahasa Berdasarkan Segi Bahasa


Berdasarkan unsur-unsur bahasa yang digunakan, gaya bahasa dapat dibagi menjadi empat macam sebagai berikut:

a  - Gaya Bahasa Berdasarkan Pilihan Kata
Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata m  embahas penggunaan kata yang dipilih oleh penulis atau pembicara. Pemilihan gaya tersebut melihat dari sudut pandang pemakai bahasa. Jadi, gaya bahasa ini membahas ketepatan dan kesesuaian dalam menghadapi situasi tertentu. Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata dibedakan menjadi tiga yaitu:

1.      Gaya bahasa resmi
Gaya bahasa resmi adalah gaya bahasa yang lengkap dan digunakan pada situasi resmi. Gaya ini menggunakan bahasa yang baik dan benar.
Contoh: gaya bahasa resmi yaitu penggunaan bahasa dalam artikel-artikel ilmiah, pidato, ceramah, berita kenegaraan, atau amanat presiden.
2.      Gaya bahasa tak resmi
Gaya bahasa tak resmi digunakan pada situasi nonformal. Gaya ini digunakan dalam karya tulis, kolumnis, editorial, atau artikel mingguan. Gaya bahasa tak resmi bernada lebih santai, pilihan kata sederhana, dan kalimat lebih singkat.
3.      Gaya bahasa percakapan
Gaya bahasa percakapan menggunakan pilihan kata yang populer. Gaya bahasa ini sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. 

b Gaya bahasa berdasarkan nada yang terkandung dalam wacana

Gaya bahasa berdasarkan nada didasarkan sugesti yang ditimbulkan dari rangkaian kata yang terdapat dalam wacana. Gaya ini dibedakan menjadi tiga sebagai berikut:
1.      Gaya sederhana
Gaya ini menghendaki penulisyang memiliki kepandaian dan pengetahuan yang cukup. Gaya ini digunakan untuk memberi instruksi, perintah, perkuliahan, atau pelajaran.
2.      Gaya mulia
Gaya ini memerlukan tenaga dalam mengungkapkan ide atau suatu wacana. Gaya ini digunakan untuk mempengaruhi atau menggerakkan.
3.      Gaya menengah
Gaya bahasa menengah bertujuan untuk menciptakan suasana tenang. Gaya ini disampaikan dengan nada lembut, halus, dan mengandung humor. Gaya ini sering menggunakan metafora atau perlambang.

c       Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat
Gaya bahasa ini dibedakan menjadi beberapa macam:
1.      Klimaks
Gaya bahasa klimaks disebut juga majas gradasi. Gaya bahasa klimaks adalah gaya bahasa yang mengandung urutan pikiran yang setiap kali atau semakin lamasemakin naik atau menghebat.
Contoh: ia sudah menanti kedatangan orang tuanya sehari, seminggu, sebulan, yah setahun, tetapi tidak kunjung datang.
2.      Antiklimaks
Antiklimaks adalah gaya bahasa yang melukiskan gagasan-gagasan berurutan dari yang terpenting ke gagasan yang kurang penting. Antiklimaks kurang efektif digunakan karena gagasan yang penting diletakkan di awal sehingga pembaca atau pendengar kurang memberi perhatian pada bagian-bagian selanjutnyadalam kalimat yang disampaikan.
Contoh: pembanguna lima tahun telah diselenggarakan serentak di ibu kota negara, ibu kota provinsi, kabupaten, kecamatan, dan semua desa diseluruh Indonesia.
3.      Paralelisme
Paralelisme adalah gaya bahasa yang mengusahakan pencapaian kesejajaran dalam pengunaan kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam gramatikal yang sama.
Contoh: kudendangkan lagu nestapa
Kudendangkan ratapan nestapa
Kudendangkan luka lara
4.      Antitesis
Antitesis adalah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan. Gaya bahasa ini juga menggunakan unsur keseimbangan kalimat dan paralelisme.
Contoh: kaya miskin, tua muda, besar kecil, semua memiliki, hak yang sama untuk beragama dan beribadah menurut keyakinan masing-masing.
5.      Repetisi
Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata, atau bagian, kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai.  
Contoh: Anggota-anggota masyarakat dalam lingkungan suatu kebudayaan tahu akan adat istiadat, kebiasaan, dan undang-undang. Tahu cara harus berperilaku dalam lingkungan masyarakat dan kebudayaan.

d.      Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna
Gaya bahasa ini mengacu makna kata yang digunakan. Gaya ini membahas kalimat yang masih menggunakan makna sebenarnya atau makna kiasan. Gaya bahasa ini dibedakan menjadi dua macam yaitu:
1.      Gaya bahasa retoris
a.       Aliterasi
Aliterasi adalah gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Gaya bahasa ini sering digunakan dalam puisi atau prosa untuk penekanan makna.
Contoh: Takut titik lalu tumpah
b.      Asonansi
Asonansi adalah gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama.
Contoh: Ini muka penuh luka siapa punya
c.       Anastrof
Anastrof adalah gaya bahasa retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat.
Contoh: pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat perangainya.
d.      Apofasis
Apofasis adalah gaya bahasa yang digunakan penulis untuk menegaskan sesuatu, tetapi seperti menyangkal. Penulis berpura-berpura membiarkan,tetapi sebenarnya menekankan. Penulis berusaha melindungi dan menyembunyikan, tetapi sebenarnya memamerkan.
Contoh: saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan uang jutaan milik perusahaan.
e.       Apostrof
Apostrof adalah gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanat dari hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir. Cara ini sering digunakan orator.
Contoh: wahai para pejuang bangsa semua yang telah menumpahkan darah untuk tanah air tercinta ini, biarlah kami dapat mengenyam keadilan dan kemerdekaan seperti yang telah engkau perjuangkan.
f.       Asindeton
Asindeton adalah gaya bahasa yang berupa acuan yang bersifat padat. Kata, frasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung. Bentuk inihanya dipisahkan dengan penanda baca koma (,).
Contoh: dan kesesakan, kepedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.
g.      Polisindeton
Polisindeton adalah gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari asindeton. Beberapa kata, frasa, atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan menggunakan kata-kata sambung.
Contoh: dan kemanakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang bakal merontokkan bulu-bulinya?
h.      Kiasmus
Kiasmus adalah gaya bahasa yang terdiri atas dua bagian baik frasa atau klausa yang sifatnya berimbang dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frasa atau klausa itu terbalik jika dibandiingkan dengan frasa atau klausa lainnya. Contoh: semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha ini karena terlalu banyak aral  merintang di depan kami.
i.        Elipsis
Elipsis adalah gaya bahasa yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang mudah diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar sehingga struktur gramatikal atau kalimat memenuhi pola yang berlaku. Contoh: jika anda gagal melaksanakan tugas......, tetapi baiklah kita tidak membicarakan hal itu.
j.        Eufemismus
Eufemismus adalah gaya bahasa yang menggunakan ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan atau ungkapan yang halus untuk menggantikan acuan yang menghina atau tidak menyenangkan. Contoh: anak saudara memang tidak terlalu cepat mengikuti pelajaran seperti anak-anak lainnya. (tidak terlalu cepat mengikuti pelajaran=bodoh)
k.      Litotes
Litotes adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Contoh: kedudukan saya ini tidak ada artinya sama sekali.
l.        Histeron proteron
Histeron proteron adalah gaya bahasa yang berkebalikan dengan sesuatu yang logis atau wajar. Contoh: jika ia sudah berhasil mendaki karang terjal itu, sampailah ia di tepi pantai yang luas dengan pasirnya yang putih.
m.    Pleonasme
Pleonasme adalah acuan yang menggunakan kata-kata lebih banyak dari pada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan.
Contoh: globe yang merupakan tiruan bentuk bumi berbentuk bulat.
n.      Perifrasis
Perifrasis adalah gaya bahasa yang menggunakan kata lebih banyak dari kata yang diperlukan. Kata yang berlebihan dapat diganti dengan satu kata saja.
Contoh: jawaban atas permintaan saudara adalah tidak! (=ditolak)
o.      Prolepsis
Prolepsis adalah gaya bahasa yang menggunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi. Contoh: pada pagi yang nahas itu, ia mengendarai sebuah sedan biru yang baru dibeli.
p.      Erotesis atau retoris
Erotesis adalah pertanyaan yang digunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban. Contoh: rakyatkah yang harus menanggung akibat semua korupsi dan manipulasi di negara ini?
q.      Silepsis atau Zeugman
Silepsi adalah gaya bahasa yang menggunakan dua rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya salah satu yang memiliki hubungan dengan kata yang pertama. Contoh: dengan membelalakkan mata dan telinganya, ia mengusir orang itu.
r.        Koreksio
Koreksio adalah gaya bahasa yang berwujud, mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya. Contoh: anak yang berambut panjang itu adikku, oh salah, kakakku.
s.       Hiperbol
Hiperbol adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan berlebih-lebihan dengan membesar-besarkan sesuatu. Contoh: prajurit itu masih tetap berjuang dan sama sekali tidak tahu bahwa ia sudah mati.
t.        Paradoks
Paradoks adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta yang ada. Contoh: musuh  sering merupakan kawan yang akrab.
u.      Oksimoron
Oksimoron adalah suatu acuan yang digunakan untuk menggabungkan kata-kata supaya mencapai efek yang bertentangan. Contoh: untuk menjadi manis, seseorang harus menjadi kasar.
2.      Gaya bahasa kiasan
Gaya bahasa kiasan adalah gaya bahasa yang digunakan untuk me,bandingkan sesuatu. Gaya bahasa kiasan dapat dibedakan beberapa macam yaitu:
1.      Persamaan atau simile
Persamaan adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Eksplisit yang dimaksud adalah perbandingan tersebut langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Gaya ini ditandai dengan kata seperti, bagai, bak, umpama, laksana, atau sebagai. Contoh: matanya seperti bintang timur
2.      Metafora
Metafora adalah gaya bahasa yang menganalogikan sesuatu secara langsung dalam bentuk yang singkat. Contoh: ia sangat menyayangi buah hatinya.
3.      Alegori, parabel, fabel
Alegori adalah suatu cerita singkat yang mengandung kiasan. Dalam alegori, nama-nama pelaku memiliki sifat-sifat yang abstrak dan tujuannya jelas tersurat.
Parabel adalah kisah singkat dengan tokoh-tokoh antara lain manusia yang bertema moral.
Fabel adalah suatu metafora berbentuk cerita mengenai dunia binatang atau benda-benda yang tidak bernyawa dapat bertindak seolah-olah seperti manusia.
4.      Personifikasi
Personifikasi adalah gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda mati atau barang-barang tak bernyawa yang memiliki sifat-sifat seperti manusia.
Contoh: angin yang meraung di tengah malam yang gelap itu menambah ketakutan kami.
5.      Eponim
Eponim adalah gaya bahasa yang menyatakan bahwa seseorang sering menghubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat tersebut. Contoh: kecantikannya tidak terkalahkan bahkan oleh Helen dari Troya. 



Demikianlah Penjelasannya yang dapat penulis sampaikan semoga dapat bermanfaat. Terimakasih 

0 Response to "Pengertian Gaya Bahasa Dan Klasifikasi Gaya Bahasa Lengkap Beserta Contohnya"

Post a Comment

Apa tanggapan anda tentang artikel diatas?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel